Masih ingatkah kamu dengan kasus ketidakpuasan (akan kebijakan) antara Epic Games vs App Store dan Play Store? Nah, ternyata kasus tersebut tidak padam begitu saja, melainkan justru malah semakin memanas dan gak cuma itu, kini ada yang namanya koalisi untuk keadilan aplikasi atau Coalition for App Fairness!

Apa sih itu Coalition for App Fairness?

Buat kamu yang belum tahu, koalisi untuk keadilan aplikasi adalah sebuah organisasi non-profit yang diserukan oleh Basecamp, Blix, Blockchain.com, Deezer, Epic Games, the European Publishers Council, Match Group (Tinder and Hinge), News Media Europe, Prepear, Protonmail, SkyDemon, Spotify dan Tile.

Tujuannya dari organisasi ini sangatlah jelas, yakni untuk menegakkan dan mereformasi hukum dan peraturan terkait pilihan (store) yang diinginkan oleh konsumen dan menciptakan lapangan bermain yang setara bagi para pengembang aplikasi dan game, baik itu untuk pengembang yang eksklusif berada di dalam toko suatu platform yang populer (mis. App Store dan Play Store) atau juga yang mengandalkan toko aplikasi dari pihak lain (3rd party apps seperti EGS).

Jadi, intinya itu para developer tidak senang dengan kebijakan yang diterapkan oleh Play Store dan App Store (terlihat seperti melakukan monopoli). Sehingga mereka menginginkan hak yang setara dan ada beberapa tuntutan disini, seperti:

  1. Tidak ada pengembang yang diwajibkan untuk menggunakan toko aplikasi secara eksklusif, atau untuk menggunakan layanan tambahan dari pemilik toko aplikasi (mis. sistem pembayaran), atau untuk menerima kewajiban tambahan lainnya untuk memiliki akses ke toko aplikasi.
  2. Tidak boleh ada pengembang yang diblokir dari suatu platform atau didiskriminasi berdasarkan model bisnis pengembang, bagaimana ia memberikan konten dan layanan, atau apakah ia bersaing dengan cara apa pun dengan pemilik toko aplikasi.
  3. Setiap pengembang harus memiliki akses tepat waktu ke antarmuka interoperabilitas dan informasi teknis yang sama seperti yang sudah disediakan oleh pemilik toko aplikasi untuk pengembangnya sendiri.
  4. Setiap pengembang harus selalu memiliki akses ke toko aplikasi selama aplikasinya memenuhi standar yang adil, obyektif, dan tidak diskriminatif untuk keamanan, privasi, kualitas, konten, dan keamanan digital.
  5. Data pengembang tidak boleh digunakan untuk bersaing dengan pengembang.
  6. Setiap pengembang harus selalu memiliki hak untuk berkomunikasi langsung dengan penggunanya melalui aplikasinya untuk tujuan bisnis yang sah.
  7. Tidak ada pemilik toko aplikasi atau platform yang boleh terlibat dalam mengutamakan aplikasi atau layanannya sendiri, atau mengganggu pilihan preferensi atau default dari pengguna.
  8. Tidak ada pengembang yang diwajibkan untuk membayar biaya atau bagi hasil yang tidak adil, tidak masuk akal atau diskriminatif, atau diwajibkan untuk menjual dalam aplikasinya apa pun yang tidak ingin dijual, sebagai syarat untuk mendapatkan akses ke toko aplikasi.
  9. Tidak ada pemilik toko aplikasi yang boleh melarang pihak ketiga dalam menawarkan toko aplikasi yang bersaing di platform pemilik toko aplikasi, atau mencegah pengembang atau konsumen untuk menggunakannya.
  10. Semua toko aplikasi akan transparan tentang aturan dan kebijakan mereka serta peluang untuk promosi dan pemasaran, menerapkannya secara konsisten dan obyektif, memberikan pemberitahuan perubahan, dan menyediakan proses yang cepat, sederhana dan adil untuk menyelesaikan perselisihan.

Untuk saat ini, koalisi untuk keadilan aplikasi memang masih organisasi yang kecil yang terdiri dari beberapa pengembang. Namun, bukannya tak mungkin jika masalah ini (ketidakpuasan pengembang akan kebijakan dari suatu platform) semakin besar, maka nantinya akan ada semakin banyak pengembang yang mendukung organisasi ini.

via NYTimes

  Hobi Baca Wajib Punya..!! Unboxing Onyx BOOX Poke2 Indonesia + Review Singkat 🔥🔥  

SUBSCRIBE CHANNEL KEPOIN TEKNO

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.