Mungkin banyak orang yang bertanya mengapa desain Android tidak se-premium iPhone. Bahkan, bahan-bahan dasar pembuatan smartphone Android pun kebanyakan adalah perpaduan plastik-metal-kaca, apakah smartphone Android tidak bisa menggunakan bahan-bahan dasar seperti stainless steel, sapphire, atau bahkan titanium?. Kali ini aku akan membahasnya secara mendalam di artikel ini.

Baca Juga:

Desainnya Memang Membosankan, Tetapi Ada Fungsi Pentingnya loh!

Banyak pengguna smartphone Android yang iri dengan iPhone yang memang sangat seksi dari segi desain hingga material dasar pembuatannya. Ini sangat berbeda dengan material dasar dari smartphone Android yang cenderung itu-itu saja dan terkesan membosankan. Bahkan banyak orang berharap pembuatan smartphone Android akan beralih ke alumunium base daripada plastik base. Terlebih lagi, jika dibuat dengan bahan alumunium base maka kesan mewah dan kemungkinan besar akan memperbaiki image Android.

Ternyata, ada sebuah alasan penting mengapa semua smartphone Android memakai plastic base dalam materialnya. Menurut pendapat Kinder Liu COO dan Kepala R&D OnePlus yang dilansir dari Android Police, OnePlus memang seringkali mendapatkan pertanyaan terkait hal tersebut, dan tentunya OnePlus juga pernah melakukan inovasi dengan menggunakan bahan plastik, kaca, alumunium, fiberglass, kayu, keramik, cobalt, hingga safir. Dengan bermacam-macam bahan untuk pengembangan ini, jelas OnePlus mendapatkan sebuah masukan dan wawasan positif-negatif terkait bahan tersebut. Menariknya, bahan-bahan yang mempunyai materi kelas atas ini memiliki sebuah handicap tersembunyi di tiap bahan tersebut.

Mengapa Smartphone Tidak Memakai Bahan Stainless Steel?

Untuk mengawali pembahasan kali ini dimulai dengan membahas mengapa smartphone Android tidak menggunakan bahan Stainless Steel. Baik OnePlus maupun Samsung memang mempunyai pasar harga yang cukup tinggi, tetapi jika smartphone mereka memakai bahan dasar dari Stainless Steel, maka berat smartphone akan terpengaruh. Dengan ini akan mempengaruhi berat dan rancangan yang telah dibuat, tidak hanya itu smartphone juga akan mendapatkan masalah karena perbedaan platform serta harapan dari pelanggan.

iPhone bisa menggunakan bahan stainless steel karena mereka menggunakan baterai yang lebih kecil daripada smartphone Android. Memang ada cukup banyak alasan terkait hal itu, tetapi satu yang pasti Apple memiliki sebuah kontrol yang lebih besar atas tumpukan perangkat lunak dan perangkat keras, ditambah lagi mereka memberlakukan lebih banyak batasan yang mana hal ini berefek pada kinerja iPhone yang lebih efektif.

Satu contoh lain, iPhone dapat bertahan dengan lebih sedikit daya untuk mengoperasikannya. Pada versi iPhone 12 Pro Max, baterainya pun hanya 3.768mAh, sangat jauh dibandingkan dengan baterai smartphone Android yang rata-rata mencapai 4.500mAh. Karena pengaruh hardware dan platform inilah yang membuat Android membutuhkan kapasitas baterai yang lebih besar beserta komponen lebih berat, dan hal ini tidak bisa diakomodasi stainless steel karena akan membuat bobot smartphone menjadi lebih berat.

Pada versi iPhone 12 Pro Max dengan spesifikasi seperti itu mempunyai berat sekitar 228g, ini juga sudah termasuk berat, apalagi jika manufaktur menanamkan baterai lebih besar dan komponen yang lebih berat yang diestimasikan sebesar 200g, nilai 428g menjadi prediksi kasar berat smartphone tersebut, masih tertarik kah kamu membawa smartphone 428gram dalam kehidupan sehari-hari?.

Bagaimana Dengan Layar Sapphire?

Melihat tampilan display yang ditawarkan iPhone memang jauh lebih memikat dan kuat karena mereka menyapuh layar mereka dengan Sapphire screen. Sapphire memang telah terkenal melindungi kaca jam tangan premium agar tahan lebih lama. Tentu sangat memikat jika teknologi ini ditanam dalam smartphone, meskipun ada beberapa pertanyaan tentang kemurnian sapphire dan penerapan dalam beberapa tahun terakhir. Tetapi melihat reputasi mereka yang tahan lama dan anti gores membuat pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti menguap di udara.

Permasalahannya adalah tingkat produksi kristal safir memang cukup terbatas, apalagi untuk industri smartphone. Selain itu, produk ini sangat mahal, apalagi jika smartphone mempunyai ukuran layar yang besar. Jadi karena alasan itulah mengapa Sapphire screen lebih cocok untuk perangkat lebih kecil seperti jam tangan ataupun lensa kamera untuk saat ini.

Selain itu, bahan dasar Sapphire yaitu alumunium oksida dibuat di dalam laboratorium dengan tingkat perkembangan yang sulit dan sangat lambat. Untuk memulainya saja, bahan yang diperlukan akan dilebur dalam wadah pada suhu yang amat tinggi, dan bibit kristal diperlukan untuk mendorong pembuatan dan pertumbuhan. Kemudian secara perlahan-lahan, safir dibangun di atasnya. Mungkin terdengar sederhana, tetapi untuk mendapatkan perubahan suhu yang kecil beserta adanya ketidakteraturan akan mengacaukan produk yang dihasilkan. Hasilnya pun akhirnya pun cukup sulit diprediksi karena “boule” (gumpalan safir) mempunyai bentuk yang berbeda-beda, dan itu bisa membuat kesulitan dalam mendapatkan potongan seukuran smartphone dari boule tersebut.

Kelemahan lain Sapphire dibandingkan Gorilla Glass, meskipun Sapphire sangat kuat dan tahan terhadap goresan, akan tetapi Sapphire sangat rentan terhadap pecahnya layar. Ini juga mengapa industri smartphone Android saat ini lebih memilih teknologi Gorilla Glass pada layar smartphone mereka.

Selain itu, dengan pengembangan yang mahal serta pergerakan pengembangan yang sangat lambat tentu akan membuat cost dari pembuatan smartphone menjadi sangat lama. Tentunya ini akan membuat harga smartphone menjadi lebih mahal daripada biasanya, melihat potensi pasar smartphone Android yang middle-low hal ini dirasa kurang begitu cocok.

Bagaimana Dengan Bahan Dasar Keramik dan Titanium?

Penggunaan Bahan Keramik dan Titanium memang tidak umum ditemukan pada desain smartphone. Hanya di beberapa series special edition menggunakan bahan keramik dan titanium seperti terbaru yaitu Mi 11 Ultra yang menggunakan bahan keramik pada bagian belakang perangkatnya.

Ada beberapa manfaat keramik yang bisa diambil dimana tingkat kekerasan keramiik lebih tinggi daripada kaca. Tetapi manfaatnya hanya lebih dari sekedar daya tahan serta penampilan “estetik” belaka. Bahan keramik itu sendiri juga memungkinkan tekstur yang lebih halus, pantulan yang lebih cerah, dan daya tarik yang lebih “glowing”.

Akan tetapi, keramik juga termasuk bahan yang cukup sulit untuk dikembangkan. Jika berbicara dengan bahan metal ataupun kaca, kamu bisa memilih beberapa warna yang kamu inginkan. Sedangkan untuk keramik hanya bisa mengandalkan tekstur yang halus pada warna hitam dan putih belaka, sedangkan efek visual dan pemilihan warna tidak akan sekaya dan sebanyak yang ditawarkan glass base.

Sedangkan bahan titanium sudah bisa dipastikan harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan alumunium, bahkan harganya pun sangat premium yang akan membuat harga smartphone akan melambung amat jauh. Selain itu, bahan titanium juga sangat susah untuk diolah, mereka harus menggunakan Laser sintered titanium untuk mendapatkan bentuk desain yang sempurna, belum lagi bagian-bagian finishing yang tentunya akan memakan waktu jauh lebih lama.

Tidak hanya itu, meskipun soliditas dari titanium menjadi nilai plus, dalam pembuatan juga menjadi sebuah nilai minus. Para engineer cukup kesulitan dengan geometri, apalagi komponen Android membutuhkan bahan-bahan yang berat dan besar, hal ini memperumit pengembangan. Liu juga menambahkan memproses bahan titanium membutuhkan waktu dua hingga tiga kali lebih lama, ini menjadikan biaya pengembangan menjadi membengkak.

Lalu Jika Kobalt jadi Bahan Pembuatan Bagaimana?

Kobalt memang dikenal dengan keeksotisan bahan yang luar biasa. Selain itu, kobalt juga menawarkan rating kekerasan yang tinggi, anti karat, dan ketangguhan yang diatas rata-rata. Kamu bisa menemukan bahan kobalt ini pada jam tangan high-end macam Altiplano dan lainnya. Namun, Kobalt sangat sulit untuk diproses secara keseluruhan, terlebih lagi alat servis yang digunakan untuk memproses paduan kobalt memiliki masa pakai yang sangat pendek daripada proses paduan stainless steel.

Saat ini, sebagian besar pebrik memiliki sedikit pengalaman dalam produksi kobalt secara massal. Ini juga akan memakan waktu proses yang lama, belum lagi pemolesan material ke paduan kobalt dibandingkan bahan stainless steel. Singkatnya ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan jika ingin menanam kobalt dalam materi pembuatan smartphone.

Layaknya titanium, kobalt juga membutuhkan bahan-bahan yang keras untuk membentuk sebuah desain. Dengan tidak ramahnya kobalt terhadap mesin pemolesan, dan mesin pembuatan (karena mengurangi umur mesin) membuat kobalt menjadi pilihan yang kurang begitu efektif. Para manufaktur malah lebih berpengalaman memoles alumunium, stainless steel, bahkan titanium daripada kobalt.

Bagaimana Dengan Bahan Kulit dan Kayu?

Bahan kulit dan kayu memang tidak sering muncul di varian smartphone. Jika menggunakan bahan seperti kulit dan kayu maka permasalahannya adalah di durability atau ketahanannya. Memang dalam proses pemolesan tidak menemui masalah berarti, ditambah mudahnya membuat sebuah tekstur yang mungkin lebih memikat dan eksotis jika dibandingkan dengan kaca. Cuma, untuk produk kulit dan kayu sangat rentan terhadap cacat, sedikit goresan jelas akan membuat nilai smartphone menjadi turun belum lagi jika bernoda, ataupun bahkan patah.

Tentu kamu harus membeli sebuah pelindung luar agar hal tersebut terhindar dari smartphone, dan itu pun membuat kamu harus mengeluarkan dana tambahan. Banyak manufaktur lebih memilih mengembangkan casing eksternal karena lebih mudah diganti daripada bahan tersebut ditanam di smartphone. Konsep natural pun masih bisa dipertahankan meskipun smartphone tersebut hanya menggunakan casing eksternal.

Bukan Sekedar Uang, Tetapi juga Kontinyuitas Pengembangan

Memang uang menjadi permasalahan utama, tetapi keberlangsungan pengembangan pun akan tersendat jika menggunakan bahan-bahan yang telah dibahas tersebut. Jadi untuk sekarang ini, memang bahan yang paling cocok untuk smarphone adalah plastic-glass-metal, selain murah, pengembangan smartphone pun bisa berjalan dengan lancar.

Tetapi tidak menutup kemungkinan akan ada inovasi lebih lanjut jika ada sebuah materi lain yang mungkin lebih mudah diolah dan lebih menarik ketika menjadi base bagi pembuatan sebuah smartphone. Kita tunggu saja perkembangan smartphone Android ini kedepannya ya.

Oke itu tadi opini seputar pembuatan bahan di smarphone Android, semoga artikel ini bermanfaat untuk kamu semuanya. Jika kamu ada saran tentang aplikasi dan game yang ingin dibahas, kamu bisa berkomentar pada kolom dibawah ya, terima kasih!.

Sumber

  HP LOKAL INI MULAI BERANI NANTANG XIAOMI..!! πŸ”₯πŸ”₯  

SUBSCRIBE CHANNEL KEPOIN TEKNO

NB: Subscribe channel Kepoin Tekno agar tidak ketinggalan berbagai info menarik dan bermanfaat seputar teknologi, setiap hari.